Cak Imin Kunjungi Kampung Singkong Salatiga, Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Tim Redaksi
15 Okt 2026 15:57
5 menit membaca

Salatiga|Mediacakranews.com – Kota Salatiga kembali menunjukkan potensinya sebagai kota kecil dengan daya saing besar melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Hal tersebut mengemuka dalam dialog Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Abdul Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, bersama para pelaku ekonomi kreatif di Kampung Singkong Argotelo, Salatiga.

Mengusung tema “Tata Kelola Ekonomi Kreatif untuk Produk Lokal Berdaya Saing”, kegiatan berlangsung hangat dan semarak. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin, CEO Educa Studio Andi Taru, serta sejumlah pelaku ekonomi kreatif dan pengusaha lokal.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyampaikan aspirasi pelaku usaha sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta guna memperkuat perekonomian masyarakat.

Di tengah tantangan persaingan pasar yang semakin ketat, pengembangan produk lokal dinilai membutuhkan dukungan konkret, mulai dari peningkatan kualitas produk, perluasan akses pemasaran, penguatan kapasitas pelaku usaha, hingga kemudahan akses pembiayaan.

CEO Educa Studio, Andi Taru, menyampaikan aspirasi pelaku ekonomi kreatif agar pemerintah pusat memberikan dukungan lebih besar terhadap potensi yang dimiliki Salatiga.

Menurutnya, meskipun memiliki wilayah relatif kecil, Salatiga menyimpan potensi ekonomi kreatif yang mampu bersaing dan berkembang lebih luas apabila didukung kebijakan serta program pemberdayaan yang tepat.

“Langsung saja, Pak Menko PM, ini juga titipan dari teman-teman semua. Bahwa Salatiga itu kotanya kecil, tapi daya saingnya besar. Nah, oleh karena itu mohon support-nya, Bapak,” ungkap Andi Taru.

Aspirasi tersebut menjadi pengingat bahwa pelaku usaha lokal tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dan kemampuan berinovasi. Mereka juga membutuhkan ekosistem usaha yang mendukung agar produk yang dihasilkan mampu menembus pasar regional, nasional, bahkan internasional.

Cak Imin Buka Peluang Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah

Menanggapi aspirasi tersebut, Cak Imin menyambut baik peluang kerja sama dengan Pemerintah Kota Salatiga. Ia menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti potensi ekonomi kreatif yang ada agar jangkauan dan manfaatnya semakin luas.

“Mumpung ada Bu Wawali ini, kami siap sekali untuk berkolaborasi. Semoga kedatangan kami di sini, meskipun singkat, akan memberikan dampak. Nanti akan kami tindaklanjuti sebagai upaya kita untuk kolaborasi agar semua potensi ini bisa diperbesar, diperbanyak, dan diperluas jangkauannya, sehingga menjadi role model ekonomi kreatif ke depan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membuka harapan bagi pelaku usaha di Salatiga agar kolaborasi lintas sektor tidak berhenti pada dialog, tetapi diwujudkan dalam program yang terukur dan berkelanjutan.

Dukungan pemerintah diharapkan mampu memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menciptakan peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong produk unggulan daerah memiliki nilai tambah.

Dalam kunjungan tersebut, Cak Imin juga memberikan penghargaan kepada dua pengusaha makanan berbasis singkong yang menjadi penggagas dan penggerak perkembangan Kampung Singkong Salatiga.

Keduanya adalah Tony Anindya, pengembang produk olahan singkong Argotelo, serta Hendardi, yang mempopulerkan produk singkong keju D-9.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan konsistensi pelaku usaha dalam mengembangkan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

“Saya bersyukur dan bangga dengan kemajuan produk olahan berbasis singkong ini. Semoga makin maju dan terus berkarya,” kata Muhaimin saat berdialog dan meninjau Kampung Singkong Salatiga, didampingi Wakil Wali Kota Nina Agustin.

Keberhasilan pengusaha lokal mengolah singkong menjadi produk unggulan menunjukkan bahwa potensi daerah dapat dikembangkan melalui inovasi, pengemasan produk, strategi pemasaran, serta kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan usaha, memperluas distribusi, meningkatkan daya saing harga dan kualitas, serta memastikan pertumbuhan ekonomi kreatif memberikan manfaat yang lebih merata kepada masyarakat.

Di sela kegiatan, awak media juga mengajukan pertanyaan kepada Cak Imin terkait anggaran pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya ia lontarkan.

Pertanyaan tersebut menyoroti apakah penguatan anggaran pemberdayaan hanya ditujukan kepada pemerintah pusat melalui kementerian terkait, atau justru harus menjadi tanggung jawab bersama dengan pemerintah daerah.

“Terkait anggaran pemberdayaan yang kemarin Bapak lontarkan, apakah itu hanya untuk pusat atau Kementerian Keuangan saja, atau pemerintah daerah pun harus ikut andil meningkatkan anggaran pemberdayaan agar tujuan mengurangi bahkan menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial (bansos) bisa terwujud?” demikian pertanyaan awak media.

Pertanyaan ini relevan karena upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan sosial tidak cukup hanya melalui penyaluran bantuan. Diperlukan strategi pemberdayaan yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga secara bertahap.

Bantuan sosial tetap memiliki fungsi penting sebagai jaring pengaman bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun, bagi masyarakat yang memiliki potensi untuk berkembang secara ekonomi, program pemberdayaan dapat diarahkan untuk membuka akses terhadap keterampilan, modal usaha, pendampingan bisnis, dan kesempatan kerja.

Dalam konteks tersebut, pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki peran yang saling melengkapi sesuai kewenangan, kapasitas anggaran, serta kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.

Pemerintah daerah juga memiliki kedekatan dengan kondisi riil masyarakat sehingga dapat mengidentifikasi potensi ekonomi lokal yang layak dikembangkan. Sementara itu, dukungan pemerintah pusat dapat membantu memperluas akses program, memperkuat koordinasi, dan mendorong keberlanjutan usaha.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana memastikan anggaran pemberdayaan benar-benar menghasilkan masyarakat yang lebih mandiri, bukan sekadar menambah kegiatan atau program yang bersifat sementara.

Penggunaan anggaran publik perlu disertai sasaran yang jelas, pendampingan yang berkelanjutan, serta evaluasi terhadap hasil yang dicapai. Indikator keberhasilan tidak semata-mata jumlah bantuan atau pelatihan yang diberikan, tetapi juga perkembangan usaha, peningkatan pendapatan, terbukanya lapangan kerja, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Kolaborasi Nyata, Bukan Sekadar Seremonial

Dialog di Kampung Singkong Argotelo diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Salatiga. Potensi produk lokal seperti olahan singkong dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah apabila didukung kebijakan yang tepat dan kerja sama lintas sektor.

Ke depan, tantangan yang perlu dijawab adalah bagaimana memastikan komitmen kolaborasi diwujudkan dalam program nyata, dengan dukungan yang tepat sasaran dan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha maupun masyarakat.

Salatiga telah menunjukkan bahwa keterbatasan wilayah bukan penghalang untuk menciptakan produk unggulan. Namun, untuk menjadikan potensi tersebut sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan, kreativitas masyarakat harus berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah, akses pasar, serta kebijakan pemberdayaan yang terukur.

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya tentang seberapa besar anggaran yang digelontorkan, melainkan seberapa jauh anggaran tersebut mampu mendorong masyarakat berdaya, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian ekonomi tanpa mengabaikan perlindungan bagi warga yang masih membutuhkan bantuan sosial.

(Prabu Cakra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *